Connect with us

CAMPUS LIFE

Sejarah OSPEK di Indonesia Dari Masa Penjajahan Hingga Sekarang

Untuk kamu yang sudah di bangku perkuliahan pasti pernah merasakan OSPEK saat pertama kali masuk kampus yang kamu tuju. Nukan Cuma saat masuk kuliah, saat masuk sekolah SMP dan SMA juga ada yang namanya Masa Orientasi Siswa (MOS). Sebenarnya tujuan MOS dan OSPEK itu sama saja, sama-sama untuk mengenalkan lingkungan, budaya, serta sistem yang ada di kampus atau sekolah yang bersangkutan.

Orientasi Studi dan Pengenalan Kampus (OSPEK) sebagai salah satu cara untuk menyambut para mahasiswa baru. Mungkin OSPEK yang kamu pahami saat ini adalah suatu hal yang menyeramkan karena akan dimarahi oleh kakak tingkat atau tugas menumpuk yang diberikan oleh mereka. Atau istilahnya perpeloncoan.

Adapun tujuan dari OSPEK yang sebenarnya adalah:

  • Mengenal dan memahami lingkungan kampus sebagai suatu lingkungan akademis serta memahami mekanisme yang berlaku di dalamnya.
  • Menambah wawasan mahasiswa baru dalam penggunaan sarana akademik yang tersedia di kampus secara maksimal.
  • Memberikan pemahaman awal tentang wacana kebangsaan serta pendidikan yang mencerdaskan berdasarkan pada nilai-nilai kemanusiaan.
  • Mempersiapkan mahasiswa agar mampu belajar di Perguruan Tinggi serta mematuhi dan melaksanakan norma-norma yang berlaku di kampus, khususnya yang terkait dengan Kode Etik dan Tata Tertib Mahasiswa.
  • Menumbuhkan rasa persaudaraan kemanusiaan di kalangan civitas akademika dalam rangka menciptakan lingkungan kampus yang nyaman, tertib, dan dinamis
  • Menumbuhkan kesadaran mahasiswa baru akan tanggung jawab akademik dan sosialnya sebagaimana tertuang dalam Tri Dharma Perguruan Tinggi
  • Untuk bisa saling beradaptasi antar sesama mahasiswa.

Bagaimana OSPEK bisa ada di Indonesia? Dan bagaimana keberadaannya bisa muncul di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi Indonesia?

Sejarah OSPEK di Indonesia, dijelaskan oleh Mohammad Roem, sebenarnya sudah mulai ada sejak tahun 1900-an ketika Belanda menjajah Indonesia. Pada tahun 1924, Roem menjalani OSPEK ketika masuk ke Stovia atau Sekolah Dokter Bumiputera. Saat itu, OSPEK sendiri bernama ontgroening yang berarti hijau (groen) dalam bahasa Belanda untuk mengumpamakan para murid baru. Istilah ontgroening itu sendiri dimaksudkan untuk menghapuskan “warna hijau” tersebut agar mereka menjadi dewasa dan berkenalan dengan teman-teman di seluruh Stovia.

Ontgroening itu sendiri sebenarnya sudah terjadi selama bertahun-tahun namun tidak pernah ada hal-hal di luar batas atau berita buruk yang terdengar. Ontgroening saat itu memang dilakukan selama tiga bulan dan suasana sangat ramai di sekolah berasrama tersebut. Semua dikarenakan pengawasan dan peraturan OSPEK yang sangat ketat. Peraturan tersebut di antaranya seperti waktu OSPEK yang dibatasi, tidak boleh digunduli, tidak boleh melakukan OSPEK di waktu istirahat serta waktu belajar, dan hanya boleh dilakukan di dalam tembok sekolah serta asrama.

Masa Penjajahan Jepang

Sejarah OSPEK di Indonesia kembali berlanjut saat masa penjajahan Jepang setelah Belanda angkat kaki dari Indonesia. Pada OSPEK masa penjajahan Jepang justru terjadi penggundulan seperti yang dijelaskan oleh R. Darmanto. Perploncoan terjadi setelah Stovia berganti menjadi Ika Daigaku (Sekolah Kedokteran) dan dikelola oleh militer Jepang. Seorang mantan mahasiswa Ika Daigaku menyebutkan bahwa kata perploncoan itu sendiri muncul sebagai pengganti kata ontgroening yang sebelumnya digunakan untuk OSPEK dalam bahasa Belanda.

Pelonco sendiri berarti kepada gundul yang merujuk kepada kepala gundul anak kecil. Saat itu, hanya anak kecil yang memiliki kepala gundul. Sehingga, kata pelonco merujuk kepada arti seseorang yang belum mengetahui kehidupan masyarakat dan dianggap belum sampai di tahap dewasa. Maka dari itu, para murid baru yang dipelonco wajib diberikan berbagai petunjuk dan pengetahuan untuk menghadapi masa depan.

Masa tersebut diduga menjadi awal mula tradisi OSPEK yang keras di Indonesia. Hal tersebut sempat diprotes oleh salah satu tokoh nasional yaitu Soedjatmoko dan kawan-kawannya. Mereka menolak untuk digunduli saat masa perpeloncoan tersebut. Akibatnya, Seodjatmoko dikeluarkan dari Ika Daigaku.

Pasca Kemerdekaan

Sejarah OSPEK di Indonesia terus berlanjut bahkan setelah Indonesia merah kemerdekaannya. Hal tersebut dibawa oleh perguruan tinggi pertama yang dikelola pemerintah Indonesia yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM). Tradisi perpeloncoan dilakukan di UGM pada saat proses penerimaan mahasiswa baru. Tak hanya itu, pelonco juga terjadi di Universitas Indonesia pada bulan April tahun 1949 dan penggemblengan yang terjadi di Klaten, Solo, dan Malang.

OSPEK Sempat Hilang Sementara

Sejarah OSPEK di Indonesia yang baru akhirnya dimulai pada tahun 60-an. Penolakan dari salah satu partai politik yaitu Partai Komunis Indonesia (PKI) membuat tradisi perpeloncoan di Indonesia dihentikan pada tahun 1963. PKI menganggap bahwa pelonco merupakan tradisi kolonial dan hal-hal yang berkaitan dengan kolonial harus dihapuskan. Sehingga OSPEK pada masa itu diberi nama Masa Kebaktian Taruna (MKT).

Akan tetapi, gejolak kembali terjadi pada tahun 1965 akibat G30S oleh PKI. Pada tahun tersebut, semua hal yang berkaitan dengan PKI diperintahkan untuk dihilangkan, termasuk salah satunya adalah MKT. Sejarah OSPEK di Indonesia kembali berlanjut pada tahun 1968 dengan diadakannya Masa Pra Bakti Mahasiswa (MAPRAM) sebagai salah satu ajang penyambutan mahasiswa baru. Saat itu, hukuman sebagai karena tidak mengerjakan tugas-tugas masih diberikan kepada para mahasiswa baru.

Tradisi plonco di Universitas Indonesia sempat dihentikan pada tahun 1982 dan diganti dengan OSPEK. Acara tersebut dijadwalkan akan berlangsung di kampus UI pada tanggal 4 dan 5 Agustus 1982. Selanjutnya pada tahun 1990 di UGM, nama OSPEK baru digunakan sebagai singkatan dari Orientasi Studi Pengenalan Kampus. Hukuman fisik berupa pushup dan situp masih diterapkan saat itu.

Masa Kini

Saat ini, tradisi OSPEK masih ada di hampir seluruh perguruan tinggi di Indonesia dan menjadi menu wajib sebelum mahasiswa baru menjalani perkuliahan. Tidak sedikit yang menerapkan OSPEK keras, namun banyak juga OSPEK yang dilakukan dengan santai. Hingga akhirnya pemerintah turun tangan dan menghimbau perguruan tinggi agar tidak melakukan kekerasan saat pelaksanaan OSPEK. Meskipun terkadang harus dimarahi, perguruan tinggi tetap memberikan hal-hal positif dalam OSPEK seperti pengembangan soft skill, pengenalan lingkungan kampus, hingga menguatkan kerja sama para mahasiswa baru.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in CAMPUS LIFE