Connect with us

Behind The Team

Intan: Tetap Ingin Berkontribusi untuk Kampus

Setelah lulus kuliah dengan beasiswa, Intan Noor Annisa tetap ingin berkontribusi untuk Universitas Trisakti (Usakti), almamaternya. Oleh karena itu, ia menjadi manajer tim badminton selama dua tahun berkompetisi di Liga Mahasiswa (LIMA). Sebagai manajer, banyak hal yang dilakukan oleh Intan, baik saat di lapangan maupun di luar lapangan.

Beasiswa yang diberikan kampus saat kuliah melatarbelakangi keinginan Intan menjadi manajer tim badminton Usakti. Ia mengatakan, “Saya mendapat beasiswa dari kampus, dan umur saya sudah lewat batas persyaratan. Jadi, saya ingin berkontribusi untuk kampus dengan cara lain, yaitu dengan menjadi manajer.”

Selama tiga tahun menjadi student athlete dan dua tahun menjadi manajer, Intan mengungkapkan perbedaannya. “Saat menjadi student athlete, saya hanya fokus latihan dan pertandingan. Akan tetapi, saat menjadi manajer, fokus saya berbeda, yaitu di belakang tim untuk mengurus persyaratan, mengatur keuangan, mencari sponsor, mengurusi perizinan para student athlete kepada klubnya, dan sebagainya,” ujarnya.

Selama menjadi manajer, perempuan kelahiran Purwakarta ini juga sudah menjalani berbagai tantangan. Ia harus menyamakan jadwal latihan para pemain karena berasal dari klub yang berbeda. Oleh karena itu, biasanya Intan memberikan surat resmi dari kampus kepada klub masing-masing agar bisa memberikan izin untuk latihan bersama selama dua hari dalam seminggu di kampus.

Intan juga harus mencari dana tambahan melalui sponsor dengan cara menghubungi para senior atau alumni Usakti yang memiliki relasi di perusahaan yang bisa mensponsori tim. Ia juga selalu menyediakan obat-obatan dan vitamin untuk para student athlete. Jika ada pemain yang sakit, Intan langsung mencari klinik atau rumah sakit terdekat dan membawanya secepat mungkin.

Mengurusi para student athlete dan membuat mereka agar tetap solid tidaklah mudah. Apalagi mereka berasal dari klub yang berbeda-beda. Untuk menyiasatinya, Intan mengadakan latihan bersama di kampus dua kali seminggu agar para pemain bisa memahami bagaimana pola permainan satu sama lain saat di lapangan. Intan juga biasanya mengajak mereka liburan atau mencari hiburan bersama, agar kekompakan para pemain tidak hanya di dalam lapangan, tetapi juga di luar lapangan.

Tidak hanya tantangan, ia juga memiliki kenangan tersendiri di LIMA bersama para student athlete. Momen yang paling berarti untuk Intan adalah bisa menyaksikan langsung perjuangan para student athlete Usakti, mulai dari kompetisi fase conference hingga Nationals, dan melihat mereka berada di podium juara Nationals. Hal itu juga merupakan kebanggaan bagi Intan. Apalagi tim Usakti juga meraih penghargaan Best Management sebanyak empat kali.

Pada LIMA Badminton Nationals Season 3, tim putri yang meraih penghargaan Best Management. Musim selanjutnya, kedua tim mereka berhasil menjadi manajemen terbaik. Pada LIMA Badminton Nationals Season 6, giliran tim putra yang meraih Best Management, dan tim putri kembali mendapat penghargaan tersebut pada musim ketujuh.

Selain itu, menurut Intan, LIMA merupakan ajang yang bergengsi untuk para mahasiswa, dan tidak hanya memberikan penghargaan kepada para student athlete yang juara, tetapi juga memberikan penghargaan kepada student athlete yang memiliki IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) tertinggi. “LIMA juga memberikan penghargaan kepada manajemen tim yang berada di balik kesuksesan para student athlete, dan saya tidak pernah melihat ada kompetisi yang memberikan penghargaan seperti itu,” tambahnya.

“LIMA mengajarkan para pemain untuk disiplin, sportif, tidak hanya berfokus pada olahraga, tetapi juga mementingkan akademik, dan yang terpenting LIMA mengajarkan para student athlete untuk berperilaku yang baik,” tutup Intan.

Beberapa student athlete Usakti juga berpendapat bagaimana pengalamannya dimanajeri oleh Intan. Rahmadhani Hastiyanti Putri mangungkapkan, “Mbak Intan orang yang baik, humoris, jujur, dan tegas. Hal sekecil apa pun yang dibutuhkan atletnya, dia bakal mencari sampai dapat, meski harus merepotkan diri sendiri. Rasa tanggung jawab karena tidak mau mengecewakan atlet dan orang yang memercayainya sebagai manajer merupakan pelajaran yang saya ambil dari dia.”

Felicia Parmenas menambahkan, “Mbak Intan merupakan orang yang disiplin. Semua kebutuhan tim pasti selalu dipenuhi, dia juga memiliki kerja sama yang baik dengan ofisial yang lain.”

“Mbak Intan itu disiplin, mengerti dan memperhatikan atletnya,” kata Ario Bimo Gagat Raino. Respati Banuaji juga mengatakan, “Mba Intan baik, peduli dengan orang sekitar, terutama atletnya, cepat tanggap, bertanggung jawab, dan menjadi pemecah masalah juga bagi para atlet. Dia selalu memberikan saran yang baik. Tidak hanya sebagai manajer, ia juga merupakan kakak bagi kami.”

Pendapat yang sama juga disampaikan oleh Marsa Indah Salsabila. “Mbak Intan merupakan sosok kakak yang baik, peduli, rendah hati, profesional, bertanggung jawab kepada tim, mengerti dan tahu kondisi atletnya. Dia juga bisa diajak berdiskusi dan memberikan solusi yang baik,” tutupnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in Behind The Team