Connect with us

News

HUT RI-76; Merawat Esensi Perjuangan Bangsa Indonesia Melalui Film

Perayaan HUT RI ke 76 sekarang ini, bisa dibilang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Yang biasanya bisa melakukan upacara hari kemerdekaan dan dilanjutkan dengan perlombaan di berbagai daerah. Kini, semua kegiatan tidak terkecuali perayaan hari kemerdekaan 17 Agustus, yang diharuskan melakukan dari rumah dan dirayakan melalui virtual.

Walaupun tidak semeriah dan seseru tatap langsung, minimal kamu bisa melakukan hal-hal yang merawat esensi perjuangan bangsa Indonesia, agar tidak lupa dengan sejarah bangsa Indonesia. Salah satunya, kamu bisa meluangkan waktu untuk menonton film bertemakan perjuangan bangsa Indonesia.

Berikut tontonan atau film yang bisa menyemarakan HUT RI ke 76 dan juga membuat kamu merasakan bagaimana perjuangan bangsa Indonesia melawan segala penjajahan yang ada.

  1. Tjoet Nja’ Dhien (1988)

Film yang telah tayang pada 1988 silam ini kini kembali hadir di bioskop. Hal tersebut tidak terlepas dari upaya Erros Djarot dan timnya yang telah sukses melakukan restorasi film Tjoet Nja’ Dhien di Belanda. Film ini tayang perdana bertepatan pada perayaan hari Kebangkitan Nasional, 20 Mei 2021 di sejumlah bioskop tanah air.

Film Tjoet Nja’ Dhien merupakan film biografi yang menceritakan tentang perjuangan seorang wanita asal Aceh bernama Tjoet Nja’ Dhien (Christine Hakim). Dia dan teman-teman seperjuangannya bertempur melawan tentara Belanda¬†menduduki Aceh. Dalam perang tersebut, Tjoet Nja’ Dhien juga ikut membantu upaya suaminya, Teuku Umar (Slamet Rahardjo) yang menjadi panglima perang antara rakyat Aceh.

Perjuangan mereka makin berat setelah Teuku Umar ditangkap oleh Belanda karena pengkhianatan orang terdekatnya. Hal itu membuat Tjoet Nja’ Dhien mau tak mau harus turun tangan menghadapi tentara Belanda bersama para pejuang lainnya. Dia bahkan terus ikut ke medan perang dalam kondisi yang sudah tidak lagi prima.

  1. Sultan Agung: Tahta, Perjuangan, Cinta (2018)

Suatu hari pada 1613, terdengar kabar duka. Prabu Hanyakrawati meninggal dunia karena mengalami kecelakaan sewaktu berburu rusa di hutan Krapyak. Raja penerus takhta Mataram Islam selanjutnya pun harus segera ditetapkan. Mau tidak mau, Raden Mas Rangsang menerima wasiat ayahnya meskipun terpaksa memutuskan hubungan asmara dengan sang kekasih, Lembayung. Raden Mas Rangsang naik takhta dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma.

Sultan Agung Hanyakrakusuma adalah sosok raja yang cerdas, gagah, dan berani, serta berusaha melindungi dan menjaga martabat masyarakat Jawa terhadap VOC atau penjajah Belanda. Kala itu, VOC telah melakukan kerja sama dengan Mataram. Akan tetapi, VOC mengkhianati perjanjian yang membuat Sultan Agung murka. Sultan Agung pun memerintahkan rencana penyerangan ke Batavia, pusat pemerintahan VOC.

  1. Perburuan (2019)

Film ini dirilis tahun 2019 yang diperankan oleh aktor Adipati Dolken. Film yang diangkat dari novel berjudul sama karya penulis Pramoedya Ananta Toer, megambil latar perjuangan kemerdekaan Indonesia di era penjajahan Jepang. Film Perburuan menceritakan tentang pemberontakan pasukan Pembela Tanah Air (PETA) melawan Jepang.

Dikisahkan, enam bulan setelah kegagalan pemberontakan PETA terhadap Jepang, Hardo (Adipati Dolken) kembali ke kampung halamannya di Blora. Namun, kehadirannya tercium oleh tentara Jepang. Hardo pun kemudian dilacak dan dikejar. Untuk menghindari kejaran, Hardo dan sejumlah orang lainnya menyamar menjadi pengemis. Dalam sebuah pengejaran selama satu hari dan malam menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sebuah drama perjuangan pun terungkap.

  1. Bumi Manusia (2019)

Mengikuti kisah Minke (Iqbaal Ramadhan) dan Annelies (Mawar De Jongh). Latar waktu yaitu sekitar abad 20, saat Indonesia masih dalam masa penjajahan Belanda. Minke merupakan pemuda pribumi Jawa totok. Sementara Annelies merupakan gadis Indo-Belanda. Dia merupakan anak Nyai Ontosoroh (Sha Ine Febriyanti), seorang gundik laki-laki Belanda. Selama perjalanannya, Minke dekat dengan Nyai Ontosoroh. Padahal ayah Minke tidak senang akan hal itu.

Status nyai sering dianggap rendah. Namun, Nyai Ontosoroh berbeda, dia punya pemikiran dan perjuangannya melawan keangkuhan hegemoni bangsa kolonial. Bagi Minke, Nyai Ontosoroh merupakan cerminan modernisasi yang kala itu mulai muncul. Saat keangkuhan hukum kolonial mencoba merenggut paksa Annelies dari sisi Minke, Nyai Ontosoroh pula yang membangkitkan semangat agar Minke terus maju dan berjuang.

  1. The East/De Oost (2020)

Film bergenre drama, thriller, dan perang The East (atau De Oost dalam bahasa Belanda) digarap oleh sutradara asal Belanda keturunan Indonesia, Jim Taihuttu. Film ini merupakan produksi film dari hasil kerja sama tiga negara, yakni Belanda, Indonesia, dan Belgia. Kerja sama ketiga negara terlihat dari jasa orang di balik layar.

Selain disutradarai oleh Jim yang merupakan keturunan Indonesia, film ini diproduseri oleh Sander Verdonk asal Belanda dan Shanty Harmayn asal Indonesia. Selain dapat mengetahui sisi sejarah lain dari kekejaman prajurit Koninklijk Nederlands-Indische Leger (KNIL), Reymond Pierre Pau Westerling, penonton juga bisa mengetahui kehidupan masa lalu masyarakat Indonesia pasca-proklamasi. Hal ini tentu menjadi pengalaman berharga agar makin meningkatkan jiwa nasionalisme di dalam diri.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

More in News